DUBAI DESERT : travel to forget  


“Sometimes we travel to forget things.”

Mereka yang bepergian untuk melupakan adalah yang seringkali tidak perduli tentang destinasi mereka karena pada akhirnya perjalanan mereka bukan tentang seberapa bagus gambar yang mereka potret, bukan tentang berapa banyak destinasi yang mereka kunjungi dalam satu tempat, tapi tentang seberapa banyak tempat-tempat tersebut memberikan kepuasan dan kenyamanan. It is about how the places make them feel.

IMG_0914

Seringkali rasa penat dalam bekerja, kehidupan percintaan, atau masalah keluarga membawa kita untuk bepergian ke tempat-tempat terkadang asing untuk kita. Dan kita melangkahkan kaki menuju tempat tersebut dengan harapan bahwa pengalaman baru akan menggantikan memori yang sudah ada sebelumnya. Dan perjalanan saya kali ini, untuk membebaskan diri sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan kantor yang mulai memanas. I just want to to forget the reality of my life along the trip.

Desert wasn’t my top destination on the list. But it’s there. Waiting for me to cross my pen on it. Pagi itu saya bangun dengan perasaan yang penuh ekspektasi tinggi. Mungkin rasanya seperti seorang anak yang menunggu hadiah natal dan tidak bisa tidur malamnya.

 Oiya, saya pernah menulis di beberapa postingan sebelumnya, bahwa saya sangat menyukai skyscraper. Gedung tinggi selalu membuat saya merasa yakin bahwa manusia bisa melakukan segala macam hal, termasuk membuat gedung tinggi yang dapat menembus awan. Sebelum menuju ke padang pasir, saya diajak ke Dubai Marina, sebuah dermaga kecil yang dikelilingi oleh gedung tinggi. This place awe me. Jujur perasaan saya seperti sedang berada di merlion area Singapore tetapi di sini semuanya terasa lebih. Gedung yang lebih tinggi dan lebih banyak, serta dermaganya yang penuh dengan yacht mewah.

 

Dubai ini menyenangkan memang, kamu bisa mendapatkan 3 suasana berbeda seperti perkotaan, padang pasir dan juga pantai. 5 hari perjalanan saya di Negara ini terasa tidak cukup sama sekali. But i think the experiences I had were the best that I could get.

 Berjalan dan membenamkan kaki saya di padang pasir di Timur Tengah adalah salah satu pengalaman terbaik yang saya dapatkan pada perjalanan kali ini. Sore itu sekitar jam 3, sebuahmobil 4 wheel drive menjemput saya dan teman-teman, Mayora, Adista, Ayu, dan Ochi, dari daerah Deira city menuju ke Dubai Desert. Pengemudi kami adalah orang Pakistan yang sepertinya pernah menjadi pembalap karena perjalanan kami hampir tanpa injakan rem. Terlalu mengerikan untuk dinikmati dalam keadaan sadar sehingga saya memilih tidur di sepanjang perjalanan, hehe.

 Saya tidur cukup lama dalam perjalanan, ketika membuka mata, saya sudah berada di sebuah camp transit sebelum menjelajahi gurun pasir. This place was packed with so many tourists, glad it’s just a transit. Tempat ini dijadikan pit stop untuk menunggu waktu sunset tiba, dan juga atv riding untuk yang suka kegiatan ekstrim.


Sekitar jam stengah 5 mobil kami berangkat ke tengah-tengah padang pasir. Off-road dengan menghantam perbukitan pasir. Sang driver menerjangnya seolah tidak ada penumpang lain selain dia. Beberapa dari kami teriak tegang seolah ini adalah perjalanan terakhir di hidup kami dan sisanya memilih berdiam dan larut dalam doa-doa keselamatan.


 

Setelah sekitar 15 menit, kami diturunkan di sebuah tempat yang dikelilingi pasir sejauh mata memandang. Ini adalah sunset point kami ternyata. Bukan hanya kami yang ada di sini, banyak juga mobil dari peserta lain yang mengikuti desert tour ini. Di sunset point ini semua peserta berhamburan keluar mencari posisi paling strategis untuk menikmati cahaya matahari terbenam. Ini adalah beberapa foto yang saya dapatkan di sana. Saya mencoba barefoot alias telanjang kaki untuk merasakan secara langsung pasir ini menyentuh jemari kaki saya. Mengejutkan, pasir ini justru terasa dingin meskipun cahaya matahari terasa begitu konstan menyinari. Mungkin karena bulan januari adalah musim dingin. Sehingga perjalanan saya selama di Dubai terasa cukup nyaman dengan suhu sekitar 18-22 derajat .



 

Lepas dari sunset, kami di bawa ke sepetak camp yang berbentuk persegi dengan beberap tenda mengelilingi panggung dan juga ada sebuah api unggun. Melihat camp ini saya merasa seperti kafilah yang beristirahat di camp padang pasir. Didukung dengan obor-obor yang menyala di sekliling. Ini sungguh PENGALAMAN YANG MENAKJUBKAN! I can say that loudly. Really LOUD! Matahari yang tenggelam dan digantikan oleh cahaya bulan pun membuat udara semakin dingin dan pasir yang saya pijak bertelanjang kaki pun sama dinginnya.


 

Di dalam camp, kami di suguhi makanan khas daerah Timur Tengah seperti kebab, hummus, dan hidangan daging yang tidak lepas dari keseharian masyarakat Dubai. Saat asyik menikmati pengalaman baru ini, tetiba timbul keramaian di tengah panggung. Sorakan para pengunjung pun mulai terdengar. Ternyata di atas panggung sedang ditampilkan berbagai macam tarian yang mengundang decak kagum. Tarian yang membuat mata kami tidak bisa lepas. Saat itu suasana begitu mendukung kekaguman saya pada kehidupan padang pasir ini. Makanan, tarian, api unggun, music, udara, Im in love with the Desert!! Especially, if it always being this magical.

 I didn’t expect that the desert can surprised me so much! It was a 5 hours of journey full of new experiences. It helps me forgot everything I worry. It helps me to believe that the world still have many things to offer that I can’t wait to explore more and more.

 At the end of the day, it’s not always the destination. It’s how the place make you feel. It's how it makes you forget things. It's how it makes you at peace.

Iklan

6 pemikiran pada “DUBAI DESERT : travel to forget  

    1. pokoknya wajib dimampirin. Aku aja yg less expectation malah jatuhnya kagunm banget mas sama dubai. Dirimu ke eropa lagi kapan? pake emirates aja biar bisa mampir..

      1. ke eropa belom pernah. hahahaha..

        paling jauh ya masih di GMT+7 – GMT+9 semua. ga ada yang ke belahan bumi bagian Dubai dan atau Eropa, apalagi Amrik.

        tapi well noted. kapan2 kalo ada rejekinya ke Eropa, mampirin sehari kali ya di Dubai. *amin*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s