Blue Grass

Blue Grass review: Kopi dan Kita


Kita akan selalu bersisian. Kamu lebih memilih Green tea latte sedangkan aku dengan secangkir kopi pahit. Entah itu hitam atau Cappucinno pekat dengan ekstra shots.

Terkadang aku dan kamu berada di satu meja yang sama, tapi seringkali kita menyesap minuman masing-masing di tempat terpisah. Dan entah, apakah kamu memikirkan hal yang sama denganku? Yaitu soal pertemuan-pertemuan yang tidak pernah terjadi atau tentang rindu yang sedekat nadi.

Baca Juga
Soul in a Bowl Review

Pagi itu, aku pergi ke sebuah restaurant yang tidak kuduga, ternyata membuat Cappucinno dengan rasa yang tidak mengecewakan. Tentu saja bukan denganmu. Tapi dengan seorang kawan yang akrab setelah bertemu dalam beberapa projek dan perjalanan menyenangkan.

Restaurant ini bernama Bluegrass.

Beautiful, lush and finely textured, this is the real lawn grass most people strive for. Truly a “bare foot” grass at it’s finest” , begitulah sebuah website memberikan definisi tentang kata Bluegrass. Aku sendiri tidak tahu apakah ini filosofi yang dituju sang pemilik atau bukan. Tapi, berada di tempat ini memang sama nyamannya dengan merebahkan diri di sebuah padang dengan rumput-rumput yang pendek.

Datang di saat pagi akan memberikan kamu ambience yang nyaman. Restaurant dengan dinding berupa kaca besar yang membiarkan cahaya pagi yang lembut menerpa setiap lekuk kaki kursi dan meja kayu yang mereka miliki. The very soft ambience is like a kiss on your lips.

“Saya pesan Cappucinno satu ya mbak”

Dua kali datang ke sini dan dua kali pula saya harus menunggu cukup lama. Entah brewing method apa yang mereka gunakan tapi saya orang yang cukup mengapresiasi bagaimana secangkir kopi dibuat. Selalu ada cinta yang dilarutkan seorang barista ke dalam tiap tetes kopi yang dibuatnya.

Ditempatkan di atas wooden plate, cangkir saya begitu cantik dengan dua cookies dan juga segelas kecil gula cair. Actually, this is the most beautiful presentation of coffee that I ever got.

Blue grass review
Cappucinno on wooden plate
20160110210046
My Cup of Heaven

Secangkir Cappucinno yang cocok menemani membaca buku-buku puisi Lang Leav atau berkontemplasi dengan karya Paulo Coelho. Rasa dari susu yang creamy melebur dalam pahitnya espresso yang menyatu. Dan tentu saja Capucinno akan terasa kurang tanpa Cinnamon Powder di atasnya. But it was a perfection. Every element of a good Cappucinno was there. Well it was not the best yet ‘bad’ is a word that very far to describe it.

Saya sesap kopi tersebut perlahan hingga habis. Karena menunggunya dingin, sama sekali bukan hal yang bijak.

 

“What time is it?”

“Oh, it’s Coffee o’Clock !!

 

 

Ifan O’Meter

Cleanliness     : 9/10

Interior            : 9/10

Location           : 9/10

Food                   : –

Delici’O’Meter :

Cappucinno       : 8/10

Blue Grass Bar and Grill

 

Address            :

Komplek Rasuna Epicentrum, Bakrie Tower lantai GF, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940, Indonesia

Phone                 :

+62 21 29941660

Operating Hours:

11:00 AM – 1:00 AM

 

How To Get there:

Ambil angkutan umum apapun yang melewati plaza festival dan turun di sini. Lalu jalan kaki sekitar 5 menit menuju ke Blue Grass.

Iklan

10 pemikiran pada “Blue Grass review: Kopi dan Kita

      1. Aku pernah makan di situ sik. Mayan enak makanannya, cuma harganya pun.

        Aku lupa dulu makan apa, yg jelas first impression ttg tempatnya lucuk, terus pas datang makanannya cantik, pas dirasain mayan. By mayan maksudnya gak yang enak banget, dan gak yang gak enak gitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s