Sejenak melupakan daratan di Labuan Bajo


Sore itu saya tiba di labuan bajo pada pukul 4 sore. Pesawat yang delayed, membuat saya terlambat dua jam dari rencana sebelumnya. Tapi, hal tersebut tidak mengurangi betapa excited-nya saya untuk menghadapi petualangan baru di tempat yang tidak pernah saya kunjungi ini.

Matahari senja, bermain-main di kulit wajah saya, menghangatkan perasaan saya, seolah tahu saya cukup gugup saking lamanya saya menantikan perjalanan di Labuan Bajo ini. Tempat asing sering memberikan saya perasaan seperti ini. But that’s how traveling works, to wake up in a new place you’ve never been before and experience that strange feelings. Tapi saya suka perasaan tersebut, keluar dari zona nyaman, tempat di mana saya berada sehari-hari.

Pagi itu saya sarapan terlebih dahulu di hotel Luwansa labuan bajo sebelum melanjutkan perjalanan menuju dermaga Labuan Bajo dan menaiki kapal yang telah kami pesan sebelumnya. Area sarapan hotel ini menghadap tepat ke sebuah pantai, sayang kami tidak mendapatkan sunrise karena area ini menghadap ke barat sehingga pemandangan yang terbaik terjadi sore hari ketika matahari tenggelam. Sarapannya cukup basic, tapi ini saja sudah cukup kok untuk menemani perjalanan saya ke pelabuhan, dan di sana telah menunggu kapten kapal kami.

Saya cukup terkejut melihat betapa bersihnya kapal kami, transportasi yang sekaligus menjadi ‘hotel’ kami selama perjalanan Living on Board ini cukup layak untuk ditinggali. Terdiri dari dua kamar dengan masing-masing kamar memiliki dua kasur tingkat. Untuk yang bepergian lebih dari empat orang, disediakan ruangan cukup besar di atas atap kapal yang dapat dijejali banyak matras untuk tidur yang muat hingga 10 orang atau lebih. Akan lebih murah bagi kamu yang bepergian dalam kelompok karena sewa kapal bisa menjadi sangat mahal, apalagi jika menggunakan kapal jenis phinisi yang harga sewanya mencapai ratusan juta rupiah untuk perjalanan tiga hari.

labuan bajo pulau padar pulau komodo

Kapal ini membawa saya ke pulau pertama di hari kedua saya berada di labuan bajo. Pulau dengan air laut yang bening ini bernama pulau kelor. Daratan kecil dengan bukit di tengahnya ini menjadi favorit banyak orang. Biasanya tempat ini dijadikan para turis sebagai pulau untuk BBQ on the beach. Terlihat ketika saya mengunjungi pulau ini, beberapa awak kapal sedang menyiapkan tempat pembakaran untuk membakar ikan bagi para penumpang kapalnya. Kelompok kami sendiri lebih suka makan di kapal karena lebih teduh. Hehehe.

Labuan bajo pulau kelor padar indonesia snorkeling bening di pulau kelor

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai pink pulau padar. Di labuan bajo ada beberapa pantai pink, mungkin karena banyak koral berwarna merah yang tersebar di kepulauan komodo. Pulau padar termasuk jajaran pulau terluar di kepulauan komodo, oleh karena itu butuh sekitar 3 jam lebih untuk sampai ke pulau ini. Dan inilah yang akan menyambutmu ketika sampai ke pantai pink pulau padar. Siap-siap menahan napas dan kekaguman!

labuan bajo pantai pink pulau padar pulay kelor labuan bajo pantai pink pulau padar pulay kelor labuan bajo pantai pink pulau padar pulay kelor

Dan kami pun bermalam di pulau ini, pulau padar. Tanpa sinyal, tanpa internet, tanpa dering telepon. Hanya ada suara serangga, suara air yang mengalir, dan angin yang cukup dingin. Dan kami pun terlelap hingga fajar tiba.

Day 2

Saya bangun sebelum matahari beranjak. Sekitar jam setengah 4 pagi tepatnya. Agenda pagi ini adalah hiking menuju puncak pulau padar dan kegiatan ini harus dilakukan sepagi mungkin ketika langit masih sangat gelap karena saya dan teman-teman lain mengincar momen matahari terbit di pulau ini. Karena trip ini dilakukan di musim kemarau, rumput di pulau padar menjadi berwarna coklat sedangkan kamu yang ingin datang pada saat rumput pulau ini berwarna hijau silakan mengunjungi pada awal tahun, ketika musim hujan sedang berlangsung.

Inilah pemandangan pagi di pulau padar.

labuan bajo pantai pink pulau padar pulay kelor labuan bajo pantai pink pulau padar pulay kelor labuan bajo pantai pink pulau padar pulay kelorBeranjak dari Pulau padar kami menuju ke pulau komodo, tempat ini adalah tempat yang paling terkenal, karena paling lebih dulu dijadikan pulau wisata. Harus berhati-hati ketika mengarungi hutan semak belukar di tempat ini. Meskipun tempat ini selayaknya penangkaran, komodo tetaplah hewan liar yang memiliki insting memburu. Hindari komodo betina karena mereka adalah yang paling cepat. Badannya cenderung lebih kecil dibanding yang jantan sehingga lebih ringan dan cepat untuk berlari.

Look at the komodo Dragon !
Look at the komodo Dragon !

Puas dengan pulau komodo, kapten kapal membawa kami ke Gili Lawa. Pulau ini akan menjadi tempat kami melihat sunset , menginap, sekaligus melihat sunrise. Di tengah perjalanan menuju ke Gili Lawa, tiba-tiba kapten kapal berteriak, “Ada lumba-lumba!!” , mendengar teriakan tersebut, kami langsung berhamburan ke dek depan dan segera berusaha mengabadikan keberadaan lumba-lumba tersebut. Sungguh beruntung saya!

Helo dolphins !
Helo dolphins !

Sesampainya di gili lawa, saya hanya berdiam di atas atap kapal, menikmati tempat kami tinggal hari itu. Ada pulau sebagai halaman depan kami, laut sebagai kolam renang pribadi kami, sungguh, saya sangat bersyukur. Tidak ada yang lebih indah dari ini saat itu. Dan sungguh, perjalanan ke labuan bajo menjadi perjalanan terbaik yang saya lakukan.

senja di Gili Lawa
senja di Gili Lawa

Lalu tibanya waktu senja dan langit mulai berwarna emas lalu tetiba.. berwarna ungu!! Super cantik!! The best sunset I’ve ever seen. Semua pengunjung yang ada di sana terpaku memandangi betapa cantiknya langit sore itu. Semua tertegun hingga langit hilang ditelan malam.

Sunset di Gili Lawa
Sunset di Gili Lawa
And it was turning out into purple !
And it was turning out into purple !

Sejenak melupakan daratan di Labuan Bajo.

Day 3

Sungguh sedih kalau ingat bahwa hari ini adalah hari terakhir saya di labuan bajo. Pagi hari saya habiskan dengan menikmati udara dari atas bukit gili lawa. Memandangi apa yang Tuhan sajikan di depan mata saya adalah kegiatan terbaik. Terkadang saya tiduran dengan hanya beralaskan rumput sembari membiarkan kulit pipi saya dibelai angin. Ketakutan dan kegugupan yang melanda saya di awal perjalanan kini tak lagi nampak. Sempat terpikir dalam otak saya tentang bagaiman mandi nanti, apakah tidur akan nyaman, apakah makanan akan seenak di daratan, dan semua pikiran tersebut sirna dengan keindahan yang saya dapat. Be dare to crossover from your comfort zone, because at the end of the day, it will worth every effort you make.

Gili Lawa yang super indah
Gili Lawa yang super indah
Gili Lawa
Gili Lawa
Iklan

17 pemikiran pada “Sejenak melupakan daratan di Labuan Bajo

  1. Tempatnya bagus + jepretan Ifan juga bagus = jadi semakin bagus tempatnya. Asli, pengen banget ke sini. Ke sini lagi dong Agustus atau September tahun depan. Biar nabung dulu

  2. oh ini sailing live on boat sekitaran Labuan Bajo ya…
    thanks referensinya, tapi tahun depan saya sailing yang dari Lombok dan rencana mau extend di Labuan Bajo 2 hari. punya referensi CP kapal yang bisa buat keliling tanpa ikut Open Trip? karena yg sailing ikut Open trip… thks b4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s