Pelaruga, surga yang tidak jauh dari Medan.


Sepanjang mata memandang hanya hijau yang terlihat dengan sesekali, sekelompok manusia melintas di hadapan saya. Udara yang cukup lembab membelai pipi saya dengan angin lembut sesekali.

Berbeda dengan keseharian saya selama ini, kali ini yang terlihat bukan beton, tetapi pepohonan menjulang tinggi. Rumput-rumput yang bebas tumbuh liar, dedaunan tua yang mengering di atas tanah. Ada rasa yang berbeda dari sekian banyak hal yang membuat saya tersenyum. Selain mengingat kamu, tentu.

“20 untuk satu spot, dan 40 ribu perorang untuk dua spot” Teman saya mengernyitkan dahi.

“Tidak bisa lebih murah bang? (jangan sesekali memanggil mas, mereka orang sumatera utara, bung!)”

“Bisa saja, tetapi kalian kan berempat, kalau 10 orang, bisalah saya kasih harga 35 ribu”, lelaki tua bertopi dengan wajah yang sudah berusaha ramah menimpali kami dengan tegas.

“Baiklah bang kalau begitu”, lalu kami mengambil pelampung dan menitipkan barang kami di rumah penjaga sebagai tanda kami setuju dengan harga tersebut. Tidak sulit tentu, mengenakan buntalan yang menyerupai rompi berwarna orange tersebut. Fungsi pelampung ini untuk membuat tubuh mengambang selama body rafting. Tidak bisa digunakan untuk menyelamatkan hubungan cinta yang mengambang tanpa kepastian ya, tolong diperhatikan.

Setiap kelompok, ataupun perseorangan yang ingin mengunjungi kawasan pelaruga wajib ditemani seorang guide. Kawasan wisata pelaruga bukanlah destinasi yang sudah ter-develop dengan baik, tidak banyak rambu yang bisa membantumu apabila tersesat. Apalagi, Hutan belantara mendominasi tempat ini. Maka didampingi guide sangatlah disarankan dan harga 40 ribu seorang sudah termasuk guide loh. Kamu berhak memberi lebih apabila merasa puas.

Selama di sana saya dibuat termenung. Suara serangga, harumnya bau tanah basah, riuhnya dedaunan yang bergesekan diterpa angin memberi rasa syahdu tersendiri. Tidak ada bunyi klakson yang diikuti hardikan manusia di jakarta kepada lampu merah. Ya, terlalu banyak orang yang memiliki tingkat stress tinggi di kota tersebut sehingga lampu merah saja diklakson supaya lekas berubah hijau. hehehe. Saya percaya kamu bukan orang yang seperti itu. . Kebisingan hampir tidak ada di tempat ini, kecuali suara sungai mengalir yang sayup-sayup terdengar di kedua telinga saya.

“Kita sudah hampir sampai ya bang”, ucap guide kami yang usianya, saya tebak, 15 tahun.

“Wah enggak terasa ya sudah sekitar 15 menit trekking dengan medan yang lumayan melelahkan”, jangan anggap remeh trekking pelaruga ini.

Saya sering kali kehabisan napas menghadapi naik turun bukit dan juga tebing batu curam yang harus dituruni dengan seutas tambang saja, atau sebatang bambu jika kamu cukup beruntung. Saya juga cukup sering mengandalkan akar pepohonan yang saya tarik kencang terlebih dahulu supaya yakin bahwa akar tersebut cukup kuat menahan beban tubuh saya. Ini penting, luput sekali, kepala kita akan jatuh bebas menghantam bebatuan keras di sungai.

Serunya mandi di air terjun
Serunya mandi di air terjun
Let's have fun
Let’s have fun
Selfie!
Selfie!
seharusnya berwarna bening
seharusnya berwarna bening

“Cih, kalau ini saya kirim ke teman-teman di medan, mereka pasti tidak akan percaya bahwa  ini adalah foto kolam abadi. Harusnya air sungai ini bening! Dasar sungai bahkan terlihat. Sayang sekali, kau gak sempet lihat ketika air sungai ini sedang jernih-jernihnya”, ketiga teman saya tampak kesal. Keadaan sungai berbeda jauh dari terakhir kali mereka mengunjungi pelaruga. Sebelumnya memang sempat diinformasikan bahwa semalam sebelum kami datang terjadi hujan yang sangat deras sehingga air menjadi keruh. Tetapi faktanya untuk saya, air sungai yang keruh berwarna hijau ini sudah sangat bersih dibanding sungai-sungai yang biasa saya lihat. Berwarna coklat pekat atau bahkan hitam. Jadi, saya tidak terlalu kecewa.Ketika mencoba berenang, air sungai terasa bagai ratusan kubik air dengan es didalamnya, saking dinginnya saya harus perlahan-lahan memasukan tubuh dimulai dari kaki hingga akhirnya terbiasa. Kesempatan ini saya jadikan ajang berenang kesana-kemari karena sudah lama tidak melakukan kegiatan semenyenangkan ini. Dan akhirnya saya ditantang kawan untuk terjun dari atas tebing. Kegiatan terjun ini memang menjadi kegiatan yang wajib dilakukan di kolam abadi. Dan tentu saja, kami semua melompat bergiliran.

Body rafting.

Setelah puas melompat berkali-kali, kegiatan selanjutnya adalah body rafting. Alias memasrahkan badan diombang-ambing oleh aliran sungai. Untuk aliran harapan dan kepastian sih mohon untuk bersabar aja ya.

Untuk body rafting sendiri waktu tempuhnya sekitar 1-2 jam. tergantung dari seberapa asik dan mau seberapa lama kita di satu spot. Tidak ada charge tambahan meski overtime. Asyik banget ya rasanya sangat murah.

Di beberapa spot selama perjalanan kita terkadang harus berdiri dan melalui batu-batu karena jeram-jeram tersebut dapat membahayakn tubuh kita apabia dilalui begitu saja. Apalagi mereka tidak melengkapi pengunjung dengan helm, diwajibkan sangat waspada. Selalu perhatikan instruksi dari guide. Di suatu titik, kami harus naik tebing karena perjalanan dilanjutkan dengan trekking yang lumayan jauh. Sangat disarankan untuk latihan fisik terlebih dahulu mengingat medan luar biasa yang akan dihadapi itu ekstrem sekali.

Nah biar seru, cek deh gimana bakal bikin irinya video trip ke pelaruga ini. Selamat menonton!

Iklan

2 pemikiran pada “Pelaruga, surga yang tidak jauh dari Medan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s