Sebuah perjalanan yang mungkin akan memperkaya saya sebagai manusia.


Jika ada yang bertanya mengapa saya suka bepergian, selalu ada satu hal yang menjadi pemicu.
Alasan tersebut adalah karena travelling kembali memanusiakan saya.

Sebelum bercerita tentang alasan mengapa harus saya yang diterbangkan ke london, saya merasa bertanggung jawab untuk terlebih dulu mendeskripsikan alasan tersebut.

“Travelling itu memanusiakan manusia”

Dua tahun lalu, saya sempat melakukan solo travelling ke Macau. Perjalanan ini dilakukan secara mendadak, tanpa perencanaan dan hanya dilakukan satu hari tanpa bermalam. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, saya harus kembali dan berada di Macau ferry terminal sebelum jam 10 malam agar dapat pulang ke hongkong.
Layaknya perjalanan tanpa itinerary, apalagi yang dapat diharapkan selain trip yang berantakan? Tapi saya tak pernah menyesal, saya menaiki sebuah bus dan berhenti di halte manapun yang menurut saya menarik. Saat itu ada sebuah kuil yang ramai dikunjungi sehingga membuat saya memutuskan untuk berhenti di sana sekedar mengambil gambar. Begitupun pada pemberhentian seterusnya, saya hanya mengandalkan mata dan intuisi. Apa yang menarik, itu yang saya kunjungi hingga tanpa sadar saya berada terlalu jauh dari ferry terminal. Dan saya terdiam hingga mungkin setengah jam karena bingung dengan apa saya harus pulang. Bahkan bertanyapun tidak ada yang dapat memberikan panduan dengan pasti. Seperti yang saya bilang, saya pergi terlalu jauh hingga mungkin warga daerah tersebut tidak tahu menahu bis apa yang harus saya naiki.

But travelling is about getting lost and find new experiences.
Saya menaiki bis apapun yang lewat di depan saya, dalam hati saya berpikir untuk bertanya pada si supir berharap dia akan lebih mengerti rute saya pulang. Tebakan saya benar, dia tau, hanya saja si supir sama sekali tidak bisa berbahasa inggris yang membuat saya justru semakin bingung dengan penjelasannya.
Saya sempat diam terlebih dahulu, berpikir menyerah dan mungkin akan mencari penginapan di sekitar macau entah berapapun harganya sampai tiba-tiba tak tau dari mana datangnya, dengan harapan yang terakhir saya bertanya kepada seorang anak muda yang terlihat sebaya dengan saya. Dengan keterbatasan bahasa yang ada dia mencoba menjelaskan rute perjalanan saya pulang, tapi seperti yang diduga saya tidak mampu mengerti apa yang diucapkan. Melihat saya berusaha keras memahaminya, dia sempat bertanya apa saya mengerti yang dia ucapkan, saya menggeleng lemah. Lalu lelaki tersebut beberapa kali bertanya pada ibunya dan kembali berbicara dengan saya sembari tersenyum “i’ll take you there“.

Saya tercengang.

Dia lanjut berbicara, “You … Hmm.. You follow me. I will take you there

Saya menimpali dengan agak ragu mengingat dia sedang bersama ibunya dan mungkin memiliki tujuan lain.

Are you sure? What about your mother?

Dengan tegas dia menjawab, “she will follow me too

Lalu hati rasanya nyesss banget, seperti haus dan lelah lalu ada seseorang yang menghampirimu memberimu minum. Perasaan yang menakjubkan, tersesat di negeri orang lalu ada malaikat yang menuntunmu menemukan jalan pulang.
Sekedar info, jarak tersebut cukup jauh karena kami harus turun 2 kali bus dan berjalan kaki 10 menit menuju terminal yang dia bilang akan membawa saya ke ferry. Dan yang menakjubkan lagi, ibunya turut serta menemani saya. Tidak ada sama sekali perasaan takut dibohongi, diculik, atau diperas. Sebaliknya saya merasa beruntung dan terharu masih ada orang sebaik ini dan dia orang asing yang saya temui di sebuah bus di saat saya sedang sangat putus asa.

Sesampainya di terminal, dia berkata sambil kembali tersenyum “that is the bus“.
Saya mengangguk sambil berujar, “thank you very much. You’re so kind to me“, dan tentu, untuk hanya sekedar menjadi pengingat bagi saya nanti, saya meminta ijin untuk berfoto berdua dengannya lalu dia meninggalkan saya menuju ibunya untuk kembali ke tujuan mereka semula.

Kejadian ini kembali memanusiakan saya, memberikan saya sebuah pelajaran bahwa berbuat baik itu perlu bahkan kepada orang asing sekalipun. Seperti sebuah qoutes yang pernah saya baca “jika kau kaya maka berbagilah, jika tidak, memberikan kebaikanpun sudah cukup”, dan saya percaya lelaki tersebut memiliki lebih dari sekedar hati yang mulia.

Dan itulah alasan saya melakukan sebuah perjalanan. Untuk belajar sebanyak mungkin dari pengalaman yang tak terbatas.

Lalu, bagaimana tentang inggris? Semua tentang inggris adalah salah satu bagian yang mempengaruhi bagaimana saya tumbuh. Tentu saja bukan bola, saya tidak akan berbual demi sebuah kontes. Ya, saya tidak suka bola. Tapi sebutlah coldplay, the beatles, duffy, adele, maka kamu akan melihat mata saya berbinar dan mungkin kita akan terlibat banyak percakapan spesial tentang bagaimana musik mereka mempengaruhi saya. Saya juga pengagum arsitektur bangunan yang unik dan inggris adalah gudangnya. Ajaklah saya ke sana, maka kamu akan melihat wajah saya penuh kagum dan kamera saya yang tak berhenti mengabadikan bangunan-bangunan tersebut. Saya juga tidak akan berbual tentang betapa saya ingin berfoto di depan big ben, trafalgar square, london eye, semua pasti saya lakukan. Tapi bukan itu trigger saya melakukan perjalanan. Saya bukan lelaki yang tumbuh di keluarga dengan mimpi jalan-jalan ke seluruh dunia, tapi keinginan tersebut justru muncul dengan sendiri. Keinginan untuk menjadi manusia yang tidak sekadar merasa nyaman menjadi apa adanya. Saya ingin memperkaya kemanusiaan saya dengan belajar berinteraksi dengan dunia, pada manusia yang hidup di dalamnya. Karena itu, Semua tempat special untuk saya, akan selalu ada momen ketika saya travelling di mana saya tertegun dan berkata โ€œTuhan, saya ada di sini. Terima kasih, ini menakjubkanโ€, ya, selalu. Untuk kalimat tersebut, saya tidak berbohong.

*ngunyah*
*ngunyah*

Apa saya sudah terlihat begitu menginginkan inggris? Mungkin tidak, karena seperti yang saya bilang, semua tempat itu spesial. Saya selalu memiliki ekspektasi yang sama akan sebuah tempat wisata, yaitu ekspektasi tak terbatas terhadap sebuah pengalaman. Masalah tujuan wisata mana yang menjadi prioritas untuk dikunjungi sih bukan karena suka atau lebih suka, tetapi tentang duit bukan?
Dan jika saya memenangkan kontes ini, perjalanan ke inggris akan membawa pengalaman saya ke level yang lebih luas.

So, let’s get lost in england together!

Iklan

7 pemikiran pada “Sebuah perjalanan yang mungkin akan memperkaya saya sebagai manusia.

  1. Kisah yg dianter orang saat tersesat itu emejing banget siiiyy… Ternyata masih ada juga ya orang baik selain diri kita sendiri *eh
    Semoga kesampaian ‘get lost’ di England yaaa…. salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s