Ekonomi, ekonomi, ekonomi! Fokus di sini!


logo DPD - RI

Seandainya saya menjadi anggota DPD-RI, saya akan.. (?)

Ketika harus melengkapi kalimat pengandaian tersebut akan ada berjuta kalimat lanjutan dan harapan yang bermacam-macam di dalamnya.  Dan saya yakin semuanya akan tertuju kepada indonesia yang lebih baik. Tapi pertanyannya, apa yang harus dilakukan ?

Jika saya menjadi anggota DPD-RI, saya akan lebih memperhatikan UKM/usaha mikro/kewirausahaan/start up lokal. Ya, saya berbicara tentang ekonomi.

Telah diketahui oleh semua pihak. Ekonomi menjadi salah satu penunjang kemajuan suatu negara. Terukur dalam pendapatan perkapita. Dapat dilihat tingkat kesejahteraan masyarakat dari negara tersebut. Jika ekonomi memang penting, lantas mengapa tidak memokuskan perhatian dalam hal tersebut?

seorang ibu dengan usaha kecilnya di pasar

Kemiskinan telah menjadi  kisah yang rauwisuwis di negeri Indonesia ini. Tindakan kriminal seperti perampokan, pemerkosaan, pembunuhan seringkali berakar dari rendahnya kepuasan ekonomi seseorang. Jika tidak ditanggulangi hal ini akan semakin menggurita! Sungguh mengerikan!

Memang sulit mengentaskan kemiskinan secara terpusat. Birokrasi keputusan yang berbelit-belit dan panjang memperlambat tindakan. Kini saatnya semua dialihkan kepada daerah. DPD-RI seharusnya memiliki hak untuk memutuskan secara final suatu kebijakan. Sehingga program yang akan saya lakukan akan mudah direalisasikan.

Jika saya menjadi seorang anggota DPD-RI, saya akan melakukan hal berikut:

  1. Mendata usaha kecil menengah (baik toko, pabrik, dst) untuk kemudian diberikan pengarahan meliputi pemberian workshop, peningkatan skill, dll.
  2. Memberikan insentif bagi mereka yang memerlukan. Tentunya dipilih secara selektif. Agar bantuan tersebut tepat tujuan dan tepat guna.
  3. Dengan kemajuan zaman, seorang pengusaha yang akrab dengan dunia internet akan selangkah lebih maju dalam hal pemasaran dengan memanfaatkannya sebagai media promosi. Maka saya akan memberikan para pengusaha rangkaian pelatihan internet.
  4. Ada usaha, ada apresiasi. Sebagai pemicu semangat berwirausaha dan berinovasi, saya akan membuat kompetisi tahunan untuk memilih usaha yang paling unggul dan menjadikan pemenangnya contoh bagi pengusaha lainnya.

Demikian hal-hal yang akan saya lakukan demi terwujudnya fungsi DPD-RI yang baik. Banyak hal yang mesti diperhatikan, akan tetapi haruslah ada satu fokus. Dimana seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan demi terwujudnya tujuan tersebut. Dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah fokus utama saya.

Harapan saya, suatu saat nanti tidak ada nenek tua renta yang berdagang dari subuh hari hingga menjelang malam demi membantu ketidakberdayaan anaknya untuk memberi makan cucu-cucu yang masih kecil. Nenek tua renta itu bisa jadi nenekmu ataupun nenek saya yang dengan tangan bergetar mengangkut buah-buahan menuju pasar untuk berjualan. Lalu pulang ke rumah dengan senyum meski pendapatan yang dihasilkannya tidak seberapa. Saya, anda, kita, dan Indonesia tidak menginginkan hal ini terjadi. Kemiskinan harus dienyahkan dan ekonomi harus kita angkat menuju tingkatan yang lebih tinggi.

Mungkin saya mengada-ngada, mungkin saya terlalu bermimpi. Tapi dari sebuah mimpi, dari sebuah pengandaian tentang “Seandainya saya menjadi anggota DPD RI” akan membawa kita menuju Indonesia dengan kesejahteraan yang lebih baik. Dari mimpi menjadi kenyataan. Dan berjuanglah mewujudkan itu.

Iklan

39 pemikiran pada “Ekonomi, ekonomi, ekonomi! Fokus di sini!

    1. aku pernah baca , kalo pilar ekonomi suatu negara berkembang itu berada pada UKM nya loh. Jika UKM maju akan tercipta pemerataan ekonomi dan kesenjangan sosial pun tidak terlalu kentara terlihat.

  1. Hmmm
    Jadi inget zaman Soeharto, pilar yang dibangun adalah pilar ekonomi saja tanpa memperhatikan pilar2 pembangunan lainnya.
    Usaha kecil penting untuk diperhatikan tapi ada banyak hal2 lain selain ekonomi yang membangun suatu masyarakat ^_^

    Btw kalo beneran jd anggota DPD jangan sampai lupa ama janji2 ya :mrgreen:
    *halah komen opo iki* haha

    1. menurutku ekonomi patut dijadikan fokus mbak, yang aku perhatikan sih, dari masalah ekonomi dapat menjalar menjadi masalah sosial. semisal deh contoh kecil, sebuah keluarga yang kekurangan ekonomi menjadikan salah satu anggota keluarganya mencuri demi sesuap makanan, atau mencuri blackberry demi mengikuti zaman. malah ada pula yang jadinya ke kekerasan rumah tangga yang berujung perceraian. Aku ndak bilang ekonomi harus satu2nya yang diperhatikan. karena fokus bukan berarti mengenyahkan kepentingan yang lain. hihi.
      anyway, makasih ya komennya 🙂

  2. Ekonomi memang penting….
    Tapi ada yang lebih penting juga selain itu, masalah moral.. entah itu moral para pemimpinnya ataupun masyarakat sendiri…

    Mungkin moral yang baik bukan segala-galanya,,,tapi segala-galanya bisa berawal dari moral yang baik….

  3. UKM menurut ane sih sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah, salah satu contohnya pemerintah sering memberikan penghargaan bagi UKM yang mampu menjaga kualitas produknya, misalnya jenang madiun, dodol garut,dll

    namun masalahnya pada saat ini masyarakat masih kurang akan informasi mengenai bantuan UKM yang diberikan oleh pemerintah sehingga hal ini justru membuat progam-progam pro rakyat yang diberikan oleh pemerintah menjadi tidak berjalan maksimal,,

    dan kenapa ga dibahas mengenai agraria juga ?? bukannya itu adalah salah satu taring kita sejak dahulu kala ??

    1. bukankah selain dijadikan kebutuhan pangan , hasil dari agraria ini di perjual belikan juga? Tentunya ini masuk dong pada fokus ekonomi. Hanya saja hasilnya kan bergantung pada cuaca dan kulitas pemeliharaannya? agak tidak pasti. Jadi saya merasa perlu membahas ke arah UKM, start up, kewirausahaan, dst.
      thx ya komennya 🙂

  4. 2 hal

    pertama
    artikel yang istimewa^^
    ternyata kita masih punya anak muda yang peduli sama keadaan bangsa ini

    kedua
    kalo menurut saya, yang perlu kita ubah dari Indonesia ini bukan ekonominya, tetapi lebih kepada kesadaran akan betapa pentingnya ekonomi bagi seorang manusia, khususnya untuk dirinya sendiri dan umumnya untuk orang-orang disekitarnya, bisa suami/istri,keluarga, dan sebagainya.
    Jadi, fokus yang ingin saya tekankan adalah, bagaimana membuat seseorang tidak hanya berpikir makan apa saya hari ini, tetapi lebih luas lagi, “Bagaimana memberi makan orang lain ??!!”
    Seorang tukang becak, tukang ojek, pengamen, atau tukang lem ajaib yang kita jumpai di metromini atau bus-bus patas hanya akan berpikir “apa yang akan kita makan hari ini”
    Inilah yang membuat secara individu orang tidak akan maju-maju karena hanya berpikir untuk hari ini, bukan berpikir untuk 100 tahun lagi
    Kalau secara perorangan kita tidak maju-maju, gimana bisa menggerakkan negara ini 100 langkah ke depan ??

    1. Komentar yang luar biasa !
      Sungguh, artikel ini tepat seperti yang kamu maksud. Harus ada kesedaran ekonomi di setiap individu mandiri. Dan sebagai anggota DPD, saya berandai untuk membantu memunculkan potensi berpikir keekonomian seperti yang kamu maksud. Dengan pemberian berbagai macam skill, juga membarikan bantuan insentif bagi merek yang merasa perlu dan pantas mendapatkannya.

      1. kesadaran akan membawa ke arah kemandirian
        kemandirian akan membawa ke arah tanggung jawab
        jika tanggung jawab sudah bisa di muncuikan oleh setiap norang di negeri ini, khususnya tentang pentingnya ekonomi, tidak mustahil negeri ini akan mam[u bangkit dari keterpurukannya

  5. klo gw, dari awal gw gak akan mau jadi anggota DPD, hehehe…. Kenapa??
    Answer: Sekarang ini kan anggota DPR udah dipilih dari dapil alias mewakili/merepresentasikan cakupan wilayah tertentu, jadi dengan kata lain DPD ini sebenernya tidak diperlukan dan hanya buang-buang anggaran

    Lanjut untuk pengandaian di atas, tentunya sebelum memutuskan ‘do’ and ‘dont’s’, perlu dipahami dulu kerangka hak kewajiban dan batasan lingkup kerja seorang anggota DPD. DPD berbeda dengan DPR dalam hal kewenangan untuk menetapkan undang-undang, DPD tidak memiliki suatu produk yg berkekuatan hukum terkait pemerintah/otonomi daerah sekalipun. DPD ‘hanya’ memiliki wewenang untuk mengajukan rancangan UU yg terkait dengan otonomi daerah dan pengelolaan SDA daerah dan melakukan pembahasan dengan DPR tapiiii…keputusan gol atau tidaknya UU tersebut tetap ada di tangan DPR. Di satu sisi, keterbatasan ini melemahkan fungsi DPD sebagai lembaga penyalur aspirasi daerah, di sisi lain, kewenangan DPD memang harus dibatasi dalam rangka meminimalisir korupsi di lingkungan parlemen (inget kan semakin besar wewenang, peluang korupsi juga makin besar)

    So, dengan segala keterbatasan yg ada itu, kalo gw jadi anggota DPD, gw akan:
    1. Hindari korupsi
    2. Meneliti, mendalami masalah-masalah yg ada di daerah kaitannya dengan masalah penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan SDA yg disesuaikan dengan kultur daerah masing-masing, karena tiap-tiap daerah pasti mempunyai masalah yg beda satu sama lain.
    3. Merancang peraturan yg berpihak kepada masyarakat daerah dan melakukan pengawasan atas terlaksananya peraturan tsb. Cliche I know, tapi bukankah memang ini esensi pokok dari tugas seorang DPD?

    Gw gak akan melakukan usulan lo, bukan karena usulan itu tidak bagus, tapi karna DPD sendiri tidak punya alat untuk melakukan hal-hal seperti yg lo sebutkan. Beda wilayah kewenangan bos, hehehe…but alas, those you’ve mentioned should be done by Ministry of Industry & Trade, seriously!!!

    1. Ya, dalam materi artikel saya memberikan statement seharusnya DPD diberi kewenangan mem-finalisasi suatu kebijakan. Karena mengusulkan saja hanya menjadikan DPD seperti yang kamu bilang “buang-buang anggaran”. Diberikannya kewenangan tersebut akan memunculkan rasa tanggung jawab untuk anggota DPD. Mengusulkan, merumuskan, menyetujui. Karena jika mereka hanya diberi kuasa “mengusulkan”, ya kasian. Kesempatan mereka mengembangkan potensi daerah masing2 menjadi terhambat birokrasi yg terlalu panjang.

      1. dan kalo pendapat gw, sekalian aja diilangin tuh DPD dari sistem parlemen Indonesia, klo DPD diberi wewenang untuk menetapkan suatu produk hukum, yang terjadi nantinya adalah politik dagang sapi sperti yg terjadi di DPR *sori, sudah terlalu skeptis sama wakil rakyat gara2 terlalu banyak anggota DPR yg jadi tersangka korupsi

      2. Sebaiknya tetap ada dan masyarakat sertai dengan pengawasan melekat pada kinerja anggota DPD. Kalo dihilangkan kok kesannya pemerintah kita jadi main2. Membuat sebuah lembaga kemudian dihilangkan.

      3. where is the reply button when I need it??? *hmmpphh!!

        keberadaan DPD itu kan sebenernya sudah ada cikal-bakalnya sejak jaman baheula (read: orde lama) yg dipertahankan sampai orde baru hingga masa reformasi saat ini. menghilangkan DPD bukan masalah nantinya pemerintah dianggap main-main tapi lebih kepada efektivitas fungsi penyelenggaraan negara. klo memang tidak ada fungsinya, buat apa diteruskan? klo memang pengen jadi wakil rakyat, silakan aja mencalonkan diri jadi anggota DPR, toh, hak yg melekat pada DPD juga melekat pada DPR, jadi kenapa mesti ada semacam dualisme dalam parlemen? satu pihak menuntut diberi kewenangan yg setara dengan pihak yg lain, yg ujung-ujungnya nanti buang-buag duit negara lagi.
        susah fan klo udah ngomong masalah parlemen dan tetek-bengeknya. Kita masyarakat sudah mengawasi pun tapi kenyataannya banyak kasus/masalah yg lolos-lolos aja kan?? so daripada menambah masalah nanti di kemudian hari, mending itu DPD dieliminasi saja. Sekian komentar dari saya. Peace yaaa, bapak2 anggota DPD! =b

      4. Dibuatnya DPD tentu dahulu dengan pertimbangan yang telah masak dipikirkan. Rasanya fungsi DPD dapat diperjelas lagi. Kewenangan seharusnya tetap diberi, tapi dalam lingkup yang lebih sederhana yang kira-kira memerlukan respon cepat dari pemerintah. Sekali lagi, itu pengandaianku. terlepas dari seperti apa fakta yang terjadi.

  6. Selain ekonomi, sebenarnya pendidikan juga penting. Karena basis dari ekonomi yang kuat adalah masyarakatnya yang terdidik.
    Tetapi apapun pilihannya, betul kata Irfan fokus..fokus..fokus! Dan dasarnya adalah kepentingan rakyatnya bukan anggota DPDnya heheee…

    1. Setuju mbak. Pendidikan sangat penting sebagai penunjang kegiatan ekonomi. Karena itu, bagi mereka2 yg ingin membuka usaha maupun yg usahanya sudah berjalan, saya membuat poin dimana mereka akan diberi workshop dan pembinaan lainnya untuk menunjang usaha mereka. Jadi aspek pendidikan tidak saya kesampingkan.
      Thx mbak ainun komennya 🙂

  7. Yep! Disini kita berkutat dengan birokrasi lagi. Inilah negara kita yang lebih mengutamakan ekonomi makro dibandingkan ekonomi mikro. Padahal, pemerintah juga bisa mendapatkan pemasukan yg lebih besar darii usaha-isaha kecil yang dimiliki masyarakat. Hanya saja, tampaknya pemerintah ogah-ogahan mengurusi ekonomi mikro.
    Tak bisa dipungkiri, pemerintah juga sedikit banyak menyokong modal tetapi setelahnya seperti digantungkan saja. Tidak terlihat kemajuan yg signifikan dari usaha ekonomi mikro.
    Semoga dengan adanya lomba ini, para wakil rakyat mulai concern dengan apa yg ifan cita-citakan. Chaiyo!!!!

    1. Makasih doa nya inne. Memang benar harus ada langkah yang lebih signifkan dari pemerintah untuk meningkat produktivitas dan inovasi dari lingkup pengusaha-pengusaha pemula. Dari dasarlah ekonomi bangsa perlahan akan mulai menanjak.

  8. Ekonomi memang menjadi penyangga negara dan setuju sekali apabila UKM menjadi perhatian utama, karena UKM lah yang paling banyak bertahan ketika krisis di Indonesia terjadi. Semoga DPD benar-benar memperhatikan hal ini ya…

    1. iya, UKM yang terbukti bertahan dari krisis. mereka tidak mengenal fluktuasi saham dan krisis yang terjadi di berbagai belahan dunia ini hampir tidak mempengaruhinya. Pemerintah harus segera menyadari ini 😉

  9. Setuju!
    Pertumbuhan ekonomi secara optimal dan merata di masing-masing daerah, merupakan tugas rumah yang harus dikerjakan oleh para anggota DPD dimanapun daerah yang diembannya.
    Dikembangkannya wirausaha akan berdampak baik sekali terhadap lapangan kerja dan tentunya akan berpengaruh terhadap menurunnya angka kemiskinan dan kejahatan, karena masyarakat yang hidup sejahtera.

    1. masyarakat yang sejahtera adalah kondisi yang diimpikan seluruh warga dunia. Saya yakin banyak masyarakat yang ingin maju dengan berwirausaha akan tetapi kebingungan harus mulai darimana. Harus ada yang membimbing mereka yan unskill. Posisi pembimbimbing inilah yang bisa pemerintah isi.

  10. Setuju!
    Kemajuan ekonomi melalui wirausaha akan berdampak baik kepada pemerataan pembangunan daerah dan meluasnya lapangan kerja. Yang lebih jauh lagi berpengaruh tergadap menurunnya angka kemiskinan dan kejahatan.
    Tugas rumah yang berkesinambungan bagi anggota DPD, demi mensejahterakan masyarakat di daerahnya.

  11. Nice thought. Memang UKM dan kewirausahaan menjadi faktor pendorong tumbuhnya ekonomi di Indonesia. Apalagi kita lihat sekarang, UKM dan kewirausahaan menunjukkan progress yang baik. Usaha pemerintah untuk support mereka juga sudah ada melalui kredit mikro yang ada di bank-bank baik itu negeri maupun swasta.
    Kalo aku pribadi sih optimis dengan perekonomian Indonesia, asalkan pengelolaan terhadap usaha dan kekayaan alamnya bisa dilakukan dengan baik.
    Banyaknya perusahaan asing dan investor asing yang mengendalikan perekonomian kita, padahal seharusnya sih terbalik, mereka yg harusnya ketergantungan sama kita.
    Eh kepanjangan komentar soal ekonominya, intinya kalau jadi anggota DPD nanti harus bisa menjaga amanah rakyat dan menggunakan jabatannya dengan bijak.
    🙂

  12. Hmm setuju kalo ukm perlu diperhatikan, bs kita liat jg kl ukm itu biasanya dirintis oleh keluarga, dan seperti yg kita liat saat ini banyak perusaahaan besar yg merupakan bisnis keluarga yg cukup berpengaruh pd perekonomian indonesia. Mk alangkah baiknya kalo ukm ini diperhatikan yg diharapkan akan lebih memperkuat perekonomian di Indonesia

  13. Sering.. Ya, jawabannya sering.. Sering saya membaca artikel-artikel di berbagai media yang kurang lebih sama dengan apa yang saya baca di atas.. Semuanya ok.. Ok untuk kemajuan NKRI, khususnya untuk aspek ekonomi.. Hmm, sebelum mengandai-andai lebih jauh, menurut saya lebih baik kita perhatikan dulu hal-hal yang pada saat ini tepat di hadapan kita, dekat dengan kita, tentunya ada didalam aktifitas kita sehari-sehari yang terkait dengan aspek ekonomi, yuk kita perhatikan & jalankan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kewajiban kita sebagai WNI, bila itu sudah kita perhatikan & jalankan dengan sebaik-baiknya, bukan tidak mungkin “pengandaian” anda dapat terealisasikan didepan nanti seperti yang anda tulis di atas..

  14. Jalan-jalan ke blog-mu, selalu saja ada artikel ini terhidang di depan mata, lama-lama tak mampu berkelit lagi, dan kumasuki saja isinya…

    Hmphh.. Lagi-lagi tentang pemerintahan, impian bila kita bercokol di salah satu tampuk kepemimpinannya [?]

    Apakah cukup hanya dengan memfokuskan diri pada perekonomian saja? Kekayaan tanah dan lautan kita itu sudah mampu menghidupi seluruh rakyat bangsa kita bahkan bangsa-bangsa seberang. Nyatanya masih jutaan orang meninggal kelaparan diluar sana, setiap tahunnya, di tanah kaya faya ini!
    Lalu kita mau bicarakan ttg Usaha Kecil Menengah? Apakah akan mampu tepat sasaran? Pernah tau ada program pemerintah yang memberikan uang tunai Rp 300.000 kepada ‘rakyat kecil yang membutuhkan’ (aku lupa tepatnya apa nama programnya), tapi program ini dilakukan rutin 3bulan sekali dan diberikan kepada fakir miskin di desa-desa.

    Nyatanya, belakangan diketahui bahwa program tersebut hanya buang-buang anggaran dan penerima kebanyakan adalah orang-orang mampu yg bisa mengenakan gelang emas tumpuk-tumpuk di ledua tangan mereka.

    Kini kita berbicara lagi mengenai anggaran yg hrs dikeluarkab pemerintah dengan dalih usaha untuk rakyat kecil-menengah..
    Pertanyaannya;

    “Apakah tepat sasaran???”

    Yang perlu diperbaiki di sini adalah moral dan kesadaran pemerintah untuk tidak menimbun kekayaan pribadi.
    Nusantara kita adalah negri kaya raya, yang tanahnya bila ditusuk kayu akan memancurkan susu, yang bila digali akan memancarkan emas permata.
    Kita hanya memiliki moral-moral pemimpin yang miskin!
    Dengan perut gendutnya *no offense ya, ay* berkoar tentang kemakmuran bangsa, namun sesungguhnya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari rakyatnya sampai mereka kurus kering.

    Impianmu keren, ay.. Hanya saja, jangan sampai ide brilliant seperti ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengajukan anggaran2 besar yang akhirnya 60%nya dimaksudkan untuk kantung perut pribadi, 20%nya untuk kolega-koleganya, dan 20% sisanya untuk Rakyat Kecil yang Membutuhkan.

    Jika aku menjadi anggota DPD?? Adakan ruwatan dulu untuk anggotanya 😉

    Salam..

  15. g mw jd anggota DPR dan agak tidak setuju dgn org yg memilih karir hidup sebagai anggota DPR, alasannya??

    well, g ada yg bener

    lebih bangga ma yg bener2 kerja tanpa harus duduk2 trus jual nama rakyat tuk perkaya diri mreka sendiri

    ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s