Busway OH busway


Bus transjakarta atau yang dikenal luas dengan busway (busway merupakan jalur bus transjakarta melintas. Tapi masyarakat lebih umum memanggil bus transjakarta dengan sebutan busway), mungkin merupakan salah satu keajaiban jakarta. Memiliki jalur tersendiri, sehingga saat jalan regular macet, saya bisa dadah – dadah dengan memasang wajah tampan dengan ekspresi bermakna ” bro, macet ya bro? Liat dong gw. Lancarrrrr !” .

Saya termasuk pengguna busway aktif (sering maksudnya) . Bukan karena mengkampanyekan “go green with public transportation” tapi lebih condong pada “belum memiliki kendaraan pribadi” *nangis di pelukan julia perez* .
Kenapa saya memilih busway ketimbang bus kota ? Sebentar saya jabarkan .
1. Ber- AC .
Busway seperti kulkas mobile. Adem dan ayem kayak nama pembantu tetangga *oh itu iyem, iya gw salah maap!* . Adem kalo sepi ya. Kalo penumpangnya banyak Busway rasanya sumpek sekali. pengap, berdesakan, bercampur keringat, rawan di-grepe orang, pokoknya parah. Pernah saat ramai wajah saya menghadap orang yg tangannya memegang standing holder dengan ketiak basah terbuka. Soal aroma tidak terdeskripsikan. Uaaseeemmm cuy!

2. Anti macet
Yang ini paling bener. Meski dibayarin saya lebih memilih pake busway kemana-mana dibanding taksi kalo bepergiannya saat jam pulang kerja. Lebih cepat sampai, dan tidak mahal.

3.Cuci Mata
“Di busway kan gada toilet fan?” Mungkin ada yang nanya begitu dengan polos *keplak giginya* . Ini kiasan *ceileehhh* . Kita bisa ngeceng-ngeceng genit karena rata2 penumpang transjakarta lebih nyaman di mata ketimbang penumpang bus kota.

Tapi tentu busway pun memiliki kekurangan. Yang selama ini kekurangannya sering saya alami akan saya sebutkan dan jabarkan berikut :

1. Halte
Halte busway seharusnya memiliki lebih banyak tempat duduk untuk menunggu. Yang paling penting adalah untuk melengkapinya dengan pendingin suhu. Cuaca panas jakarta membuat menanti bus transjakarta menjadi hal yang melelahkan dan membuat kesal. Ditambah cuaca panas, bikin hati saya sering dongkol ga karuan. Ngeceng pun jadi enggak nikmat rasanya, apalagi nafsu grepe-grepe *salah fokus*

2. Kuota
Haduh macam mau berangkat haji pake kuota. Maksud saya disini, jangan terlalu berlebihan mengangkut penumpang hingga bus penuh dan berdesakan. Ini dapat menjadi celah bagi pencuri untuk melakukan aksi kodok dompet. Atau.. Kodok yang lain ( ˘͡ -˘͡) *baca: kodok mesum*. Sehingga celah untuk melakukan aksi kodok mesum tersebut dapat leluasa di lakukan. Pernah diberitakan terjadi aksi yang mengarah pada pelecehan seksual oleh pengguna kepada pengguna busway lainnya. Saya sendiri pernah mengalami aksi kodok mesum di busway jurusan kp. Melayu – ancol. Menikmati? Enggak laaah ! Malah serem banget jadinya. Maka berhati-hatilah ketika berdesakan di dalam busway .

3.Armada
Bukan nama band. Tapi jumlah unit bus. Ini berkaitan dengan efisiensi waktu yang dapat dinikmati para pengguna busway. Pemilik akun twitter @rifkyseptiaji pernah harus menunggu busway hingga 1 1/2 jam . Lain cerita dengan @gembrit dia pernah menunggu busway lebih dari 30 menit saat jam berangkat kantor. Sedang saya sendiri, memiliki rekor menunggu sampai 45 menit. Sungguh menyita waktu dan tidak efisien. Jika sempat tengok halte dukuh atas yang menuju pulo gadung atau ragunan tiap jam pulang kantor, antrian sungguh panjang. Pernah saya lihat sampai separuh jembatan transit. Alasannya unit bus di koridor terkait masih sedikit. Jadi, mengapa tidak ditambah saja unit bus nya?

Begitulah kira-kira kekurangannya . Anyway soal sempit-sempitan penumpang dalam busway, saya pernah punya pengalaman unik. Di suatu malam yang dingin dan sesak penumpang busway, terjadi adu mulut yang isinya penghuni kebon binatang. Dari beruang sampe curut keluar sebagai makian. Saya sempat tidak tahu menahu loh penyebabnya apa. Padahal saya dekat dengan lokasi dua bapak itu. Karena takut menjadi korban bogem, saya mirse, minggir sedikit. Dan Jontrok-jontrokan berlanjut, sampai salah satu diantara mereka mengajak untuk turun di salah satu halte busway terdekat untuk menyelesaikannya secara “lelaki” entahlah ngapaian, mungkin lomba cepat menyulam pola bunga di kain perca 😀 . Heheheh. Tapi insiden sulam menyulam itu tidak terjadi karena beberapa mas-mas dan om om heroik. Melerai mereka , “sudah-sudah, selesai. istigfar Pak. ” . Bapak yang paling napsu dari tadi angkat bicara, “bagaimana bisa selesai. Saya tidak suka dengan cara bapak itu memandang dan menatap saya. Mau mengajak ribut ? Oke, siapa takut ?” , sambutan diluncurkan oleh bapak berkemeja kerja, ” hey pak, jangan asal menuduh ya. Bapak ini percaya diri sekali. Siapa yang menatap mata bapak ?” . Dan DUARRRR, gw semacam nge drop. Jadi dua bapak-bapak macho ini berantem gegara saling tatap menatap ??? Kenapa gak grepe aja sekalian pak ?? Biar berantem, di ranjang sekalian ! Dan kejadian ini pun tidak menarik lagi untuk saya simak. Selanjutnya, si om heroik meminta mereka berdua untuk diam dan menyelesaikannya layaknya pasangan *eh* . Dan busway pun kembali aman dan tentram.

Hey thinkers, apalagi ya yang dapat diperbaiki atau diprotes dari angkutan tercinta rakyat jakarta ini ? Sharing aja.. Let’s think things !!

Iklan

23 pemikiran pada “Busway OH busway

  1. first of all, Fan: gue ga tau kalo curut itu termasuk penghuni kebun binatang. maklumlah, gue jarang ke ragunan. *oke, abaikan komentar gue ini*

    secondly, gue pernah jadi pengguna setia *karena terpaksa* bus TJ ini, malah baru tobat dua bulan lalu gegara gak sanggup lagi menambah beban hidup gue dengan ngantre minimal sejam. gue ulangi: MINIMAL sejam, di salah satu halte koridor 6. antrean parah ini karena bus koridor 6 yang “dipinjamkan” ke koridor baru, 9 dan 10 *kalo gue pinjem satu bus buat gue sendiri kirakira boleh ga ya?*

    yang gue heran sampe sekarang, kalo emang itu koridor baru belum siap dioperasikan, harusnya ga dipaksain sih. kan kasihan pengguna koridor lain jadi dikorbanin, padahal hari raya korban masih lama *eh apa deh*

    jadiiii.. yang udah masuk catatan gue, untuk masukan aja sih ya *lo bakal sampein ke pihak berwenang ga sih?* *digampar Ifan*:
    1. perbanyak armada. kalo ga ada, bisa tambah lyla, d’masiv atau apa ajalah *eh salah fokus*
    2. sterilisasi jalur busway. soalnya di beberapa koridor, masih ada kendaraan yang nyelonong masuk jalur busway. alhasil sama aja bow, tetep macet tralala
    3. kasih fasilitas yang memadai di haltenya *kayak kata lo* kalo bisa sih kasi toilet.
    4. spesial buat halte yang panjang macam jogging track, macam halte benhil-semanggi, di tengah jembatan dikasih rest area kek. cape bow, itu jembatan sepanjang jalan kenangan
    5. rekrut tukang jaga pintunya yang cakep-cakep dan wangi-wangi *halah salah fokus lagi*

    eh ya ampun, ini comment panjang bener yak? udah deh, nanti kalo kepikiran, gue nulis lagi :))

    1. Wow wow wow wowo, gw setuju deh sama semua saran2 lo terutama soal merekrut pegawai TJ yang unyu-unyu dan wangi. Kalo bisa sih yang bajunya gampang di grepe saat berdesakan *eh apaaa ini yaaa*

      Betul kid, kalo belum punya armada memadai harusnya gausah maksain target penambahan koridor karena pelayanan nya jadi minus banget di mata gw, karena itu gw pake kacamata sekarang *kalem*

  2. Pembahasan yang menarik sekali.
    Eh tapi sebutan yang dimaksud harusnya “transjakarta” kan bukan “busway” hohoo… :p

    Aku sih bukan pengguna rutin tapi merasakan juga kadang2 enak tidaknya menggunakan transportasi publik tersebut. Setuju bgt sama kekurangan2 yang disebutkan di atas, harus diperbaiki semua.

    Menjadi keutamaan untuk harus selalu memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan konsumen dengan meningkatkan pelayanan agar lebih baik lagi, bukan sekadar ada fasilitas yang dibutuhkan saja tapi mengecewakan.

    1. Nah ! Tepat seperti maksud yang pengen aku sampaikan ki !
      Kalo ngasih pelayanan jangan nanggung. Bagi gw pelayanan busway skrg itu kayak liat rok tante – tante ketiup angin , tapi langsung dipegang dan ditutupin biar ga terbuka makin atas. Alias NANGGUNG dan NGEGEMESIN *etapi analoginya begitu amat ya..*

  3. Sayang cyn di bandung gak ada busway, etapi ada trans metro bandung, bus mini mirip busway tapi perjalanannya cm sepanjang by pass. Trus juga gak pake koridor-koridor kyk busway. Kalo mau naik ya nunggu ttp di halte DAMRI, kebayang donk panas, debu, ujan dll. Sebenernya belum pernah naik juga soalnya kata org yg pernah naik, itu bus sesak bgt…
    IMO sih nikmati aja buswaynya toh di kota lain belum ada.
    Artikel yg enak dibaca cyn, kamu itu penulis yaaaaaaaa? Hayo ngaku!!! 😀

    1. Hah…. ? Pe.. Nu.. Lis.. ? Bukan bukan bukan, aku pujangga kakak, sama tukang dagang gorengan *di sambit kompor abang2*
      Kasian ya , situ orang bandung? Belum ada busway gitu? Huf.. Entah aku harus bereaksi apa terhadap kemalanganmu *tepuk2 pundak, grepe*

  4. Kocak fan, gue sampe lupa lagi ada di tengah2 mobil parkir gratis (baca: macet). Mana tadi gue telat bangun, telat ngantor kan jadinya *malah curhat*

    Gue jg pengguna transjkt, eh tadinya ngga sih, males ngantrinya, tiap busnya dateng gue didorong2 mulu sama mbak2 dan ibu2. Terus masuk2 disuguhin ketek. Mending naik bus kota dah. Tapi sejak ada yg PGC-Grogol sama PGC-Tj Priok gue jd naik itu mulu. Masih enak cyinn. Ibaratnya pacaran bulan2 pertama *eh

    Okedeh segitu aja ye, gue mau turun dulu, mau naik kereta. *cipok*

    1. Aww… Kalo gitu setelan 5 bulan setelahnya galagi enak dong tuh busway. Ya sama.. Kayak pacaran #eh #curcol .

      Ya, sebaiknya dikasih papan peringatan untuk pake deodoran sebelum naik bus. Berhubung bus TJ itu tertutup dan ber AC baunya pasti ngumpul disitu (T—–T)

  5. aih aih aih
    sesudah diteror buat baca ini blog dan diancam mau digantung di pohon toge kalo gak komen, akhirnya saia membaca dan menulis juga #behindthescene

    setuju sama pak lurah ini
    walaupun saia adalah pendatang baru di jakarta, tapi kehadiran TJ sangat membantu dalam mobilitas saia #nasiboranggakpunyakendaraan

    tapi ya itu, lamanya minta ampun,, apalagi di koridor2 yang bukan favorit,, nunggu TJ aja sampe 30menit
    sebagai orang yg pendiam dan pemalu, untung saia suka merenung, jadi waktu tidak terasa lama

    untuk kejadian grepe2, saia baru tahu ada kaya gitu,, terutama untuk korban cowok
    #semogasaiatidakmenjadisalahsatukorbannya,apalagipelakunya 😀

    satu lagi : kalo penunggu pintu TJ orangnya kaya si jeng, dijamin ntar banyak penumpang yang selalu senyum ceria,, terutama cowok2 *aiiiiihhhhh

    1. Bahahah, orang gilak. Bukanyaaa situ yang nagih-nagih “mana nih post terbarunya??” *sisiran*

      Iya beberapa koridor sepi banget dari bus. Kayak koridor depan kantor saya, karidor 10 . Nungguin bus, kayak nungguin orang yg sebelumnya janjian ngajak ribut. Napsuuuuuuu kakaaaa ..

  6. Ngaku deh, aku gak pernah nyobain TJ. Tadinya sih, aku merasa biasa-biasa aja dengan segala fasilitas dalam hidupku ini.
    Tapi baca cerita kocak ini, aku jadi berpikir, ada yang kurang dalam hidup kalo belon icip-icip TJ.
    Awassss aja kalo aku gak dapet lebih dari pengalamanmu yah Fan….

    1. Hhahahahahahah… Abis kamu anjesu sih, anter jemput suami.
      Yaudah , kalo ternyata gada yg grepe, bilang aku. Ntar kita ngebusway bareng, terus aku yg grepe. #eh . Hehehe

  7. kalo dijogja adanya transjogja. Kadang kalo lagi males, kendaraan titip dikantor pulang naik transjog. seru liatin yg naik. orang jogja gitu loh apalagi ibu-ibu kenal gak kenal tetep dong diajak rumpi. Etapi sama aja transjogja sekarang armadanya udah banyak yg rusak. perlu maintanance.

    Kalo disolo bus DAMRI ganti nama aja. cuman yg asik disolo ada bus tingkat!!

    Pengalaman naik busway pertama kali dulu dijakarta. Asli, saya katrok. kayak wong ndeso. hahahaha..

  8. Yak gue gatau kenapa tiba-tiba komennya nongol disini -yangjelassihdipaksasamaipan- dan bingung juga mau komen apaan secara di solo -apalagi Madiun- ga ada bis trans semacam itu. Tapi gue pernah sih naik tranjogja, yang lumayan asik. Soalnya ga penuh dan ga macet, jadi grepe-grepe kaya yang dijabarin ipan, ga pernah kejadian di gue. *makanya ajakin gue naek transjakarta dong pan!*

    1. Kenapa ya rata2 yg komen pengen memiliki pengalaman di grepe. Padahal kan ga perlu naik busway, cukup panggil namakuh tiga kali ntar diriku dibungkus pake kado ke kamar .

  9. Hahahaha wktu gw dikasih link buat dikomen, gw pikir itu link bapak/saudara/akang ifan nyanyi, ternyata oh ternyata link ngomongin busway. Haha
    Yayaya. Gw beberapa kali pernah naik, klo untuk efisiensi waktu sampe ditujuan emang juara,(waktu buat ngantri ga diitung haha) tp bener bgt kekurangan2 yg kaya katak m fan, butuh penambahan armada, fasilitas yg memadai di haltenya, daaaaaan kapasitas penumpangnya yg pas.
    Slh satu unsur bkin males di dlm busway itu yah bagian polusi indoor, ajang grapa-grepe ulala, dan copet ! Tuh yg bkin malesnya. Haha
    Udah ah auk mau nulis apalagi. :p

  10. masih kurang suka dg kehadiran transjakarta di jakarta krn emang kurang cocok, tapi ya mo gimana lagi, transjakarta udah brojol jadi ya dimanfaatkan aja semaksimal mungkin sebagai alternatif dari moda transportasi massal di ibukota.

    sebenernya lbh menunggu kehadiran monorail di jakarta sih, monorail itu selain hemat lahan, bisa muat banyak sekali angkut, bebas macet (di luar force mayeur) krn punya jalur sendiri yg nangkring di atas jalanan.
    tapi investasinya bisa jadi nggak murah, maka nggak kelar2 😦

  11. Aku baru kali ini jadi pengguna busway.. Dan terkaget2 pas kemaren di halte blok M, ternyata masuknya dorong-dorongan desak2an… Ampun deh, ga ngerti lagi gmn cara biar bisa tertib nya.. Mana dari halte semanggi-benhil jalan nya jauh bgt *harusnya ada ojeg kali..

  12. Mo ikut komen ahh… walaupun gk tinggal permanen di jkt dan blom pernah naek TJ (suatu saat nyoba deh..), tp tergelitik juga untuk mengomentari dari sisi pemerintah nya nih, walaupun gw bukan juga PNS di dinas perhubungan.
    1. Halte, kalo ditambah kursi tunggu… brapa meter persegi lahan yg dibutuhkan untuk itu. seharusnya memang ruang tunggu di bikin nyaman (dgn pendingin tentunya) digabungkan dgn waktu tunggu yg tdk lebih dari 15 mnt (ketahanan org berdiri trutama yg pake high heel) mencontoh system transportasi singapore (MRT) yg stiap 5 mnt armada beroperasi, sehingga tdk diperlukan lg tempat duduk untuk itu.

    2. Kuota, sebetulnya kalo dlm keadaan nyaman berdesakan pun bukan lg masalah asal tujuan kita tercapai, yakni masuk kantor gk telat. kalo masalah copet dan mesum, tinggal koordinasi yg baik aja dengan aparat keamanan dan masalah moral org2nya aja.

    3. Armada, kebayang gk kalo armada TJ ditambah akan menimbulkan masalah baru? krn yg membedakan TJ hanyalah jalur nya sementara lampu merah dan persimpangan jalan yg dilalui sama dgn kendaraan lain. jumlah armada pasti sudah disesuaikan dgn tekhnis lalu lintas di jalan raya sehingga tdk akan ada penumpukan TJ di lampu merah dan di jalur TJ nya sendiri. Sudah saatnya jkt memiliki subway untuk menanggulangi masalah kemacetan.

    Gak mudah memang mikirin urusan rakyat indonesia, ini hanya masalah TJ apalagi masalah yg universal di indonesia tercinta ini.

  13. Eh boleh ikutan komen kan? hihi..

    Salam kenal,

    Dulu sewaktu masih bermukim di Ibukota, saya termasuk salah satu yang suka menggunakan busway, disamping ber ac,bs buat cuci mata *eh?* juga tidak punya kendaraan pribadi juga *nangis dipojokan*.

    Paling nggak suka pas kalau antrian di Halte Dukuh Atas, wah pernah mengalami antriannya puanjang & bersesakan. sampai2 akhirnya harus rela turun dan naik taksi daripada berdesak-desakan juga kepanasan 😀

  14. Aku dulu juga pernah menjadi salah satu korban dari orang sakit itu. Tapi di kereta api (KRL jurusan Cikini-Depok). Sayang tidak tau yang mana orangnya karena sempit dan susah gerak banget. Kalo tidak sih, pengen banget tuh nonjok mukanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s